Welcome to Friska's Blog….

PLASENTA PREVIA

PENGERTIAN

Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi (menempel) atau plasenta  yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh  ostium uteri internun (jalan lahir).

KLASIFIKASI

Menurut Prof.DR.Dr.Sarwono Prawirohardjo.SpOG,2009,Jakarta.

  1. Plasenta previa totalis atau komplit adalah plasenta yang menutupi seluruh ostium uteri internum.
  2. Plasenta previa parsialis adalah plasenta yang menutupi sebagian ostium uteri internum.
  3. Plasenta previa marginalis adalah plasenta yang tepinya berada pada pinggir ostium uteri internum.
  4. Plasenta letak rendah adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim demikian rupa sehingga tepi bawahnya berada pada jarak lebih kurang 2 cm dari ostium uteri internum. Jarak yang lebih dari 2 cm dianggap plasenta letak normal.

ETIOLOGI

Penyebab pasti dari plasenta previa belum diketahui, tetapi ada teori yang mengemukakan bahwa penyebab plasenta previa adalah multiparitas, usia maternal >35 tahun, kehamilan ganda, riwayat pembedahan uterus termasuk bedah sesar, merokok serta riwayat aborsi. Cacat bekas bedah sesar berperan menaikkan insiden dua sampai tiga kali. Sedangkan pada perempuan perokok dijumpai insiden plasenta previa lebih tinggi 2 kali lipat. Hipoksemia akibat karbonmono-oksida hasil pembakaran rokok menyebabkan plasenta menjadi hipertrofi sebagai upaya kompensasi.

PATOLOGI

Perdarahan tidak dapat dihindari karena serabut otot segmen bawah uterus tidak mampu berkontraksi menghentikan perdarahan itu, tidak seperti serabut otot uterus yang menghentikan perdarahan pada kala III dengan plasenta yang letaknya normal. Makin rendah letak plasenta, makin dini perdarahan terjadi. Oleh karena itu, perdarahan pada plasenta previa totalis akan terjadi lebih awal dibandingkan pada plasenta letak rendah yang mungkin baru berdarah setelah persalinan dimulai.

GEJALA/CIRI-CIRI

  1. Perdarahan tanpa nyeri. Perdarahan biasanya terjadi pada akhir trimester kedua ke atas
  2. Perdarahan berulang
  3. Warna perdarahan merah segar
  4. Timbulnya perlahan-lahan
  5. Rasa tidak tegang (biasa) saat palpasi
  6. Penurunan kepala tidak masuk pintu atas panggul
  7.  Janin mungkin masih hidup atau sudah mati, tergantung banyaknya perdarahan, sebagian besar kasus, janinnya masih hidup.

DIAGNOSIS
Anamnesis : perdarahan jalan lahir pada kehamilan setelah 22 minggu berlangsung tanpa nyeri, tanpa alasan, terutama pada multigravida. Banyaknya perdarahan tidak dapat dinilai dari anamnesis, melainkan dari pemeriksaan hematokrit.

Pemeriksaan luar : Bagian terbawah janin biasanya belum masuk pintu-atas panggul. Apabila presentasi kepala, biasanya kepalanya masih terapung di atas pintu atas panggul atau mengolak ke samping, dan sukar didorong ke dalam pintu atas panggul. Tidak jarang terdapat kelainan letak janin, seperti letak lintang atau letak sungsang.
Pemeriksaan in spekulo : pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui apakah perdarahan berasal dari ostium uteri eksternum atau dari kelainan serviks dan vagina, seperti erosio porsionis uteri, karsinoma porsionis uteri, polipus servisis uteri, varises vulva, dan trauma. Apabila perdarahan berasal dari ostium uteri eksternum, adanya plasenta previa harus dicurigai.
Pemeriksaan USG : ultrasonografi dalam keadaan kandung kemih yang dikosongkan akan memberi kepastian diagnosis plasenta previa dengan ketepatan tinggi sampai 96%-98%.

KOMPLIKASI

Menurut Prof.DR.Dr.Sarwono Prawirohardjo.SpOG,2009,Jakarta.

  1. Karena pembentukan segmen rahim terjadi secara ritmik, maka pelepasan plasenta dari tempat melekatnya di uterus dapat berulang dan semakin banyak, dan perdarahan yang terjadi tidak dapat dicegah sehingga penderita menjadi anemia bahkan syok.
  2. Karena plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim dan sifat segmen ini yang tipis, maka jaringan trofoblas dengan kemampuan invasinya menerobos ke dalam miometrium bahkan sampai ke perimetrium dan menjadi sebab dari kejadian plasenta inkreta dan bahkan plasenta perkreta.
  3. Serviks dan segmen bawah rahim yang rapuh dan kaya pembuluh darah sangat potensial untuk robek disertai perdarahan yang banyak. Oleh karena itu, harus sangat berhati-hatipada semua tindakan manual di tempat ini misalnya pada waktu mengeluarkan anak melalui insisi pada segmen bawah rahim ataupun waktu mengeluarkan plasenta dengan tangan pada retensio plasenta.
  4. Kelainan letak anak pada plasenta previa lebih sering terjadi. Hal ini memaksa lebih sering diambil tindakan operasi dengan segala konsekuensinya.
  5. Kelahiran premature dan gawat janin sering tidak terhindarkan sebagian oleh karena tindakan terminasi kehamilan yang terpaksa dilakukan dalam kehamilan belum aterm.
  6. Berisiko tinggi untuk solusio plasenta (risiko  relative 13,8), seksio sesarea (risiko relative 1,7), kematian maternal akibat perdarahan (50 %), dan disseminated intravascular coagulation (DIC) 15,9 %.

PENANGANAN

Harus diingat bahwa bila dijumpai ibu hamil tersangka plasenta previa rujuk segera ke rumah sakit dimana tedapat fasilitas operasi dan transfusi darah.

Menurut Prof. DR.Dr. Sarwono Prawirohardjo.SpOG. 2009. Jakarta.

  1. Perdarahan dalam trimester kedua atau trimester ketiga harus dirawat dalam rumah sakit. Pasien diminta istirahat baring dan dilakukan pemeriksaan darah lengkap termasuk golongan darah dan factor Rh.
  2. Pada kehamilan antara 24 minggu sampai 34 minggu diberikan steroid dalam perawatan antenatal untuk pematangan paru janin.
  3. Jika perdarahan terjadi dalam trimester kedua perlu diwanti-wanti karena perdarahan ulangan biasanya lebih banyak.jika ada gejala hipovolemia seperti hopotensi, pasien tersebut mungkin telah mengalami perdarahan yang cukup berat, lebih berat daripada penampakannya secara klinis. Transfusi darah yang banyak perlu segera diberikan.
  4. Pada kondisi yang terlihat stabil dalam rawatan di luar rumah sakit hubungan suami isteri dan kerja rumah tangga dihindari kecuali jika setelah pemeriksaan ultrasonografi ulangan, dianjurkan minimal setelah 4 minggu, memperlihatkan ada migrasi plasenta menjauhi ostium uteri internum.
  5. Perdarahan dalam trimester ketiga perlu pengawasan lebih ketat dengan istirahat baring yang lebih lama dalam rumah sakit dan dalam keadaan yang serius cukup alasan untuk merawatnya sampai melahirkan.
  6. Pada pasien dengan riwayat seksio sesarea perlu diteliti dengan ultrasonografi, Color Doppler, atau MRI untuk melihat kemungkinan adanya plasenta akreta, inkreta, atau perkreta.
  7. Seksio sesarea juga dilakukan apabila ada perdarahan banyak yang mengkhawatirkan.

CARA PERSALINAN

  1. Persalinan Pervaginam
  2. Persalinan perabdominan, dengan seksio sesarea.

REFERENSI

Prawirohardjo, Sarwono.2009.Ilmu Kebidanan Edisi 4.Bina Pustaka:Jakarta.

Varney, dkk.2002.Buku Saku Bidan.EGC:Jakarta.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: